Sabtu, 30 Juli 2011

051010

Terkadang, saat aku berfikir tentang hal-hal luar biasa yang ku impikan, rasanya mustahil. Tapi, jika kudengar kisah-kisah inspirasi yang menceritakan mimpi luar biasa mereka dan tercapai (kedengarannya) dengan mudah. Pernah nggak ya, mereka yang sukses sekarang melewati masa sepertiku. Yang hanya berdiam memikirkan apa yang ingin aku capai tanpa melakukan apapun. Sejenak. Hanya memikirkan itu sejenak. Lalu kembali berusaha mencapainya. Mengerti? Jadi seperti punya waktu lebih -padahal selalu mengeluh kehabisan waktu- yang digunakan untuk berkhayal tentang masa depan.  Sering juga aku merenungkan apa saja hal yang telah terlewatkan begitu saja. Seperti kesempatan yang terbuang karena terlalu banyak berfikir. Tapi begini, aku terlalu lama dan terlalu banyak berfikir sebelum mengambil sebuah keputusan agar aku benar-benar yakin atas apa yang akan aku lakukan. Apakah ini dampak negatif dari orang yang selalu berfikir (emm, maksudku terlalu sering mempertimbangkan sesuatu). Karena, yang aku fikirkan bukan hanya dampaknya untuk diriku sendiri. Aku bukan orang yang apa saja tersedia dan langsung saja ambil semua kesempatan karena toh, jika butuh apa-apa aku sudah punya. Aku bukan orang yang seperti itu. Terkadang aku fikirkan juga tentang apa yang akan difikirkan orang tuaku jika aku mengambil kesempatan itu. Aku juga diharuskan berfikir masalah keluarga di sini. Aku haus memikirkan apa yang akan aku katakan sebagai penjelasan, menyiapkan argumen-argumen yang harus aku lontarkan jika terjadi perbedaan pendapat, dan apapun itu yang perlu difikirkan. Apa itu pula, maksuku cara berfikirku yang masih sempit, yang membuatku tidak bisa dengan cepat menerima perubahan-perubahan yang ada disekitarku. Karena apa? Karena aku menyadari bahwa lingkunganku akan terus berubah dan nggak akan pernah sama. Saat ini, lingkungan yang aku hadapi adalah saat aku merasa di uji untuk bisa berfikir lebih dewasa. Saat banyak orang di sekitarku yang dengan mudahnya mengeluarkan pendapat dan keinginan mereka tanpa berfikir panjang, “yang penting aku bisa cari pengalaman” sedangkan aku yang masih harus berfikir seribu kali agar tidak merugikan dan tidak merepotkan oranag lain, terutama orang tuaku. Atau, aku terlalu belebihan dan hanya menghambat jalanku sendiri menuju kesuksesan. Ya. Aku sendiri yang menghalangi jalan kesuksesan itu. Bodohnya!
Terulang lagi, hal yang sama setiap aku merenungkan sesuatu. Aku pasti memaki diriku sendiri. Entah itu bodoh, payah, pikun, goblok dan apalah kata-kata yang sebenarnya dapat menurunkan rasa percaya diri. Tapi aku rasa aku memang pantas dikatai seperti itu, untuk saat-saat tertentu. Aku pun merasa, “hei, belum puaskah kau memaki dirimu sendiri?”. Banyak hal yang menuntut untuk difikirkan terlebih dahulu. Hal apapun, aku merasa hal itu tidak penting (untuk saa ini) pun, selalu muncul dan minta difikirkan saat itu juga. Dan, payahnya (lagi!) beberapa hal penting terkadang terlupakan. Tidak selalu.
Terkadang pula, hal-hal remeh yang terjadi bisa berubah menjadi masalah yang selalu kita fikirkan dan akhirnya, penuhlah memori berfikir kita akan hal yang sepele. Beberapa dari hal itu seringkali mengganggu jalan berfikir kita saat sedang memikirkan hal yang benar-benar berpengaruh dalam hidup kita. Sangat mengganggu. Jika bisa, aku akna singkirkan hal-hal kecil itu dan kembali berfikir untuk masa depan cerah ku.
(now playing : J Five – Find A Way)
Kita sering berfikir tentang hal-hal yang sensitif juga kan? Untuk diri kita sendiri. Misal kita berfikir masalah hati. Banyak temanku bilang, sekarang waktunya untuk menikmati aja. Nggak usah terlalu difikirkan. Apa mereka bisa berfikir seperti tiu juga? Dengan utuh? Tentu tidak. Aku ingin sependapat dengan mereka. Tak usah terlalu memikirkan hal itu. Tapi, aku takut jika hal itu sekarang akan jadi sebuah potongan hidupku besok. Dan, jika terlambat? Lihat saja seperti apa aku akan menangisinya. Atau seperti yang kukatakan tadi, aku terlalu mempermasalahkan “besok”? andai saja aku menjalani hari ini dengan santai dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi esok. Tenangkah aku? Atau memang begini diriku dengan segala macam fikiran yang entah akan kugunakan untuk apa.
Jauh, jauh dalam hatiku, aku ingin aku tenang. Jalani apa yang ingin kujalani. Lupakan apa yang ingin kulupakan. Abaikan apa yang tidak kusuka. Dan ambil apa yang aku inginkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar