Syarafku menangkap sejumlah dingin yang mengalir di inderaku. Lihatku sejumlah tetes di depan tubuhku. Langkahku menarik aku. Aku!
Gerakku menyambar daun pintu dan mengubahnya menjadi jutaan tetes yang tadi kulihat. Mengubahnya menjadi jutaan dingin menerobos tiap tulang dalam ragaku. Mengubah langkahku menjadi diamnya. Diamnya terpukau pada jutaan air itu. Jutaan, bukan sejumlah.
Syarafku tak lagi sanggup menerima jutaan kedinginan yang menyeruak begitu saja ke benteng pertahanan terakhirku. Mendekapku dengan jutaan lingkaran simetris yang siap jatuh kapan saja dari tali terakhirnya. Yang tergantikan dengan cepat oleh jutaan saudara kembarnya. Yang kembali hilang tak kurang dari seperseribu detik dan tergantikan lagi.
Aku tak bisa mengikuti ritme hidupmu. Ritme hidupku tak bisa instan, tak bisa cepat. Ada berjuta proses dari nol hingga seribu. Hidupku butuh proses..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar