aku sempat merenung.. *adegannya duduk dengan memandang keluar jendela diantara rintik hujan*
bukan sepenuhnya merenung sih *adegan gagal*
ngobrol sama temen di taman sekolah *adegan habis makan mie ayam*
cerita ini bermula saat temenku itu (sebut saja A) bercerita tentang masalahnya. semacam rahasia dan nggak usah ditulis aja. sewajarnya aku memberikan "respon" sama cerita tadi. dan tenyata "respon" yang keluar dari mulutku adalah sebuah nasihat. sakjane biasa aja, standar lah. cuman sekarang yang curhat gantian aku
A ini mendengarkan ceritaku.
aku punya teman yang dulu punya pacar, duluu waktu suka ada "gejolak kawula muda" ditengah-tengah rajutan kasih dan asmara, *ceileeeeeh* dia pasti curhat sama aku dan aku dengan entah bagaimana bisa meyakinkan temanku tadi untuk bertindak sesuatu (bukan aku nyuruh dia untuk melakukan sesuatu).
aku berfikir, aku bukanlah orang yang pernah merasakan apa yang orang lain ceritakan itu, tapi entah mengapa dan bagaimana mereka (atau dia) tetap "mempercayai" atau paling tidak masih bercerita ke aku dan mendengarkan apa responku.
sempat aku bertanya, kenapa?
"karena tanpa harus merasakan, kamu bisa berfikir secara logis dan bukan dengan perasaan"
tapi-bkan menyangkal tapi juga nggak mengiyakan-apakah seperti itu? aku nggak berfikir sepenuhnya kalau aku benar-benar ber"logika". nggak mungkin juga kan aku mengesampingkan perasaan dan memaksakan "logika" itu tadi?
dan yang baru saja aku pikirkan bahwa, kamu dan semua yang pernah cerita sama aku, punya kepercayaan. sesuatu yang udah nggak kita percaya bakalan susah buat kita terima.
dan intinya, kita bersama *uuuuh mulai mellow nih*
(bagus lagi kalo disuasana begini yang diputer SID-jika kami besama-_________-)
jika kepercayaan nggak ada diantara kita, nggak akan kita berbagi dan mau di'bagi'i masalah atau hanya sebuah cerita
*jika dalam membaca catatan ini saudara sekalian memahami sesuatu, dapat disimpulkan bahwa, yang sedang galau adalah orang yang menulis catatan ini*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar